Mataram (BIMAS HINDU) - Wisuda Pascasarjana ke-XII dan Sarjana ke-XXV yang dirangkaikan dengan Dies Natalis ke-XXIV IAHN Gde Pudja Mataram pada Sabtu (21/02/2026) ini tidak hanya menjadi seremoni akademik, tetapi juga momentum reflektif untuk memperkuat peran pendidikan tinggi Hindu dalam menyiapkan sumber daya manusia yang berkarakter, berintegritas, dan bermanfaat bagi umat, masyarakat, serta bangsa.
Acara dihadiri para sulinggih, antara lain Ida Pedanda Kerta Arsa dan Ida Pedanda Gede Made Jelantik Dwija Putra, Rektor IAHN Gde Pudja Mataram Prof. I Wayan Wirata beserta jajaran, Senat, Ketua PHDI Provinsi NTB, Anggota DPRD Provinsi NTB, Kepala Bidang Bimas Hindu, Pimpinan Rektor/ Ketua Pergiruan Tinggi Se Pulau Lombok, pimpinan organisasi keagamaan dan kemasyarakatan, tokoh agama, orang tua, serta para wisudawan.
Dalam sambutannya, Rektor IAHN Gde Pudja Mataram Prof. I Wayan Wirata menegaskan bahwa wisuda merupakan titik awal pengabdian, bukan akhir perjalanan. Ia mengajak para lulusan untuk memanfaatkan ilmu yang diperoleh sebagai bekal memberikan kontribusi nyata, baik dalam bidang pendidikan, pelayanan keagamaan, maupun pemberdayaan masyarakat. Momentum ini juga menjadi sarana mempererat sinergi antara kampus, pemerintah, dan organisasi umat dalam meningkatkan kualitas pelayanan keagamaan Hindu di wilayah Nusa Tenggara Barat.
Dirjen Bimas Hindu, Prof. I Nengah Duija menyampaikan bahwa perjalanan sejarah lembaga pendidikan Hindu yang berakar dari PGA hingga menjadi institut menunjukkan komitmen panjang dalam membangun SDM Hindu. Beliau menekankan pentingnya menghargai perjuangan para pendahulu sekaligus melanjutkan upaya pelestarian seni, budaya, dan ajaran agama sebagai fondasi pembangunan karakter.
Lebih lanjut, Prof. I Nengah Duija menekankan bahwa kegiatan wisuda dan Dies Natalis memberikan manfaat strategis bagi berbagai pihak. Bagi perguruan tinggi, momentum ini menjadi ruang evaluasi dan penguatan mutu akademik; bagi pemerintah dan organisasi umat, menjadi sarana memperkuat kolaborasi dalam pembinaan keagamaan; bagi orang tua dan masyarakat, menjadi kebanggaan sekaligus harapan atas lahirnya generasi penerus yang mampu menjaga nilai-nilai dharma; dan bagi para lulusan, menjadi panggilan untuk mengabdi serta menghadirkan solusi atas tantangan sosial keagamaan.
Dirjen Bimas Hindu juga mengingatkan peran pura sebagai acuan dalam pembelajaran nilai dan pelestarian tradisi di Mataram, sehingga sinergi antara lembaga pendidikan, komunitas, dan tempat suci perlu terus diperkuat agar pembangunan spiritual berjalan seiring dengan pembangunan sosial.
Melalui rangkaian kegiatan ini, diharapkan terbangun komitmen bersama untuk menjadikan pendidikan tinggi Hindu sebagai motor penggerak kemajuan umat, sekaligus memperkuat harmoni sosial dan pelestarian budaya di tengah perubahan zaman.