Mengurai Keruwetan Global lewat Filosofi Kendho ing Ruwet di Pura Banguntapan

Penyelenggaraan Kenduri Penampahan Galungan yang digelar di Gedung Santi Sasana

Bantul (BIMAS HINDU)— Di tengah dinamika dunia modern yang kian kompleks dan dipenuhi krisis global, umat manusia sering kali terjebak dalam kegelisahan batin. Menghadapi realitas ini, umat Hindu di Kapanewon Banguntapan, Bantul, menawarkan sebuah refleksi mendalam melalui penyelenggaraan Kenduri Penampahan Galungan yang digelar di Gedung Santi Sasana, Pura Banguntapan pada Selasa (16/06/2026).

Acara yang digelar untuk menyambut Hari Suci Galungan ini bukan sekadar rutinitas komunal menjelang hari raya, melainkan sebuah laku spiritual untuk menemukan kembali "jangkar kedamaian" yang mulai terkikis oleh zaman.

Pesan mendalam mengenai navigasi spiritual di tengah krisis global ini disampaikan oleh Pembimbing Masyarakat Hindu DIY, Didik Widya Putra, dalam Dharma Wacananya yang bertajuk “Kendho-ing-Ruwet: Menemukan Jangkar Kedamaian melalui Kenduren di Tengah Krisis Global.”

Konsep Jawa-Hindu Kendho ing Ruwet menjadi sorotan utama. Filosofi ini memberikan panduan psikologis dan spiritual yang sangat relevan dengan situasi dunia saat ini:

"Ketika dunia dipenuhi kerumitan dan krisis, manusia tidak boleh ikut hanyut dalam kegelisahan. Sebaliknya, kita harus mengendurkan keterikatan duniawi, menenangkan pikiran, serta menemukan pusat kedamaian batin," ungkap Didik.

Melalui filosofi ini, umat diajak untuk tidak responsif secara emosional terhadap "keruwetan" eksternal, melainkan menarik diri sejenak ke dalam keheningan demi menjaga kewarasan spiritual dan jalinan harmoni dengan Sang Pencipta, sesama, serta alam semesta.

Tradisi Kenduren yang diwariskan oleh para leluhur sering kali disalahpahami hanya sebagai ritual makan bersama. Padahal, di dalam tradisi ini terkandung fondasi sosial-keagamaan yang sangat kuat. Ketua PHDI Kapanewon Banguntapan, Sutaryo, juga menegaskan bahwa kenduri adalah media efektif untuk mempererat kebersamaan umat di akar rumput.
Lebih jauh dari itu, Kenduren mengasah kepekaan sosial melalui konsep berbagi makanan yang telah diberkati, atau yang dalam tradisi Hindu dikenal sebagai Prasadam (lungsuran).

•    Simbol Energi Positif: Makanan yang dibawa pulang dari kenduri bukan lagi sekadar pemuas lapar fisik.
•    Multiplier Effect Kedamaian: Prasadam tersebut adalah simbol energi kedamaian, keselamatan, dan berkah yang dibawa masuk ke dalam rumah tangga untuk kemudian ditularkan kepada keluarga dan lingkungan sekitar.

Melalui doa bersama yang dipimpin oleh Romo Mangku Jalmono, Kenduri Penampahan Galungan di Banguntapan ini berhasil memotret bagaimana kearifan lokal mampu menjadi penawar bagi kecemasan modern.

Ritual ini membuktikan bahwa jawaban atas krisis global sering kali tidak ditemukan pada formula-formula baru yang rumit, melainkan pada kesetiaan kita untuk kembali menengok warisan spiritual leluhur. Dengan menjaga tradisi Kenduren dan menghidupkan prinsip Kendho ing Ruwet, umat Hindu tidak hanya sedang merayakan kemenangan Dharma (kebaikan) melawan Adharma (keburukan), tetapi juga sedang merawat komitmen bagi terciptanya kedamaian dunia yang dimulai dari dalam diri sendiri.


Berita Daerah LAINNYA