Kupang (BIMAS HINDU) – Suasana khidmat dan penuh religiusitas menyelimuti Pura Mandhita Kupang pada Sabtu (27/6/2026), saat ratusan umat Hindu berkumpul untuk melaksanakan rangkaian upacara Piodalan yang bertepatan dengan perayaan Hari Raya Kuningan. Acara sakral yang menyatukan unsur pemujaan dan penguatan spiritual ini menjadi momentum penting dalam memperdalam makna hari suci serta memperkokoh ikatan persaudaraan antarumat di Kota Kupang.
Dalam prosesi upacara piodalan ini, pelaksanaan Dharma Wacana menjadi salah satu inti kegiatan untuk memberikan pencerahan rohani kepada umat yang hadir. Pembimbing Masyarakat Hindu Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi NTT, I Ketut Suji, S.Ag., M.Si., yang hadir mengawal jalannya kegiatan menegaskan bahwa esensi dari hari suci ini harus tertanam kuat di dalam sanubari setiap umat.
"Hari Raya Kuningan dan Piodalan ini merupakan momentum suci untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Peringatan ini hendaknya tidak hanya menjadi rutinitas ritual tahunan yang mekanis, melainkan menjadi waktu utama bagi kita untuk memperdalam pemahaman spiritual dan memperkuat kehidupan yang berlandaskan tiga nilai utama, yakni Satyam (kebenaran), Siwam (kesucian), dan Sundaram (keharmonisan)," jelas I Ketut Suji dalam petikan Dharma Wacananya.
Melalui momentum piodalan ini, umat diajak untuk terus mengejawantahkan ajaran Tri Hita Karana guna menjaga keseimbangan hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta, sesama manusia, dan alam lingkungan sekitar. Nilai keharmonisan sosial tersebut kian dipertegas melalui ajaran Tat Twam Asi yang mengajarkan sikap toleransi, saling menghormati, dan mengasihi, serta prinsip Manava Seva Madhava Seva, bahwa melayani sesama manusia adalah bentuk nyata dari pelayanan kepada Tuhan.
Di akhir kegiatan, apresiasi tinggi diberikan kepada seluruh pihak yang telah bahu-mewujudkan kelancaran pujawali ini. Umat Hindu, khususnya di Kota Kupang, diimbau untuk terus merawat persatuan, memperkuat semangat kebersamaan, serta menjalankan swadharma agama dengan dilandasi rasa lascarya (ketulusan) dan berpedoman pada sastra suci. Dengan demikian, setiap yadnya yang dipersembahkan dari Pura Mandhita ini mampu menjelma menjadi Satwika Yadnya, yaitu persembahan yang suci, tulus, dan memberikan kemaslahatan serta manfaat luas bagi kehidupan bersama.