Boyolali (Bimas Hindu) – Ada sebuah peribahasa yang mengatakan, "Tak ada rotan, akar pun jadi." Peribahasa ini mengajarkan bahwa ketika cara yang biasa tidak dapat dilakukan, selalu ada jalan lain yang dapat ditempuh tanpa mengurangi makna dari tujuan yang ingin dicapai.
Nilai itulah yang hidup di tengah umat Hindu di Dusun Ngaru-aru, Banyudono, Boyolali. Bagi mereka, ketika sebagian umat tidak lagi memungkinkan datang ke pura karena usia lanjut, kondisi kesehatan, maupun keterbatasan transportasi, persembahyangan tidak lantas terhenti. Sebaliknya, pelaksanaannya dilakukan secara bergilir di rumah-rumah umat agar setiap orang tetap memiliki kesempatan menghaturkan sraddha dan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Tradisi yang dikenal sebagai Anjangsana Persembahyangan Purnama dan Tilem ini telah berlangsung selama kurang lebih dua puluh tahun. Tradisi tersebut lahir dari kepedulian umat terhadap para sesepuh dan warga yang mengalami keterbatasan untuk datang ke Pura Bhuana Suci Saraswati. Alih-alih membiarkan mereka kehilangan kesempatan bersembahyang bersama, umat memilih menghadirkan pelaksanaan persembahyangan lebih dekat kepada mereka.
Tradisi ini menjadi pengingat bahwa dalam kehidupan beragama, yang utama bukanlah jauh atau dekatnya lokasi persembahyangan, melainkan ketulusan hati dalam memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Pura tetap memiliki kedudukan sebagai pusat pemujaan umat Hindu, namun dalam kondisi tertentu, persembahyangan dapat dilaksanakan di rumah sebagai bentuk pelayanan kepada umat yang memiliki keterbatasan. Dengan demikian, tidak ada seorang pun yang merasa tertinggal dalam menjalankan kewajiban spiritualnya.
Lebih dari sekadar persembahyangan bersama, Anjangsana juga menjadi media mempererat tali persaudaraan. Seusai sembahyang, umat berkumpul, berdiskusi, melaksanakan arisan, hingga menabung bersama untuk program Tirta Yatra. Kebersamaan yang terbangun dari kegiatan sederhana ini menjadi kekuatan yang menjaga keharmonisan umat dari generasi ke generasi.
Penyuluh Agama Hindu, Rta Wahyu Sri Pamungkas, mengajak umat untuk terus memelihara semangat kebersamaan sebagaimana ajaran suci dalam kitab suci.
"Pura adalah pusat persembahyangan umat Hindu. Namun ketika ada saudara kita yang tidak lagi mampu datang ke pura, jangan biarkan mereka kehilangan kesempatan untuk berbhakti. Yang paling utama adalah sraddha dan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa tetap hidup di hati setiap umat," ujar Rta Wahyu Sri Pamungkas.
Ia kemudian mengingatkan pesan luhur dalam sloka "Sangacchadhwam Samvadadhwam Sam Vo Manamsi Janatam," yang berarti, "Marilah kita berjalan bersama, berbicara bersama, dan menyatukan hati serta pikiran." Menurutnya, ajaran tersebut menjadi landasan bahwa kehidupan beragama tidak hanya diwujudkan melalui hubungan dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, tetapi juga melalui kepedulian, persaudaraan, dan semangat melayani sesama umat.
Di tengah berbagai keterbatasan, Anjangsana Persembahyangan di Ngaru-aru membuktikan bahwa nilai-nilai Dharma selalu menemukan jalannya. Tradisi ini lahir bukan dari kemegahan, melainkan dari kepedulian. Bukan dari kemudahan, melainkan dari keinginan agar setiap umat tetap dapat beribadah bersama.
Tradisi ini menjadi inspirasi bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti menghaturkan bhakti. Selama sraddha tetap tertanam di dalam hati dan bhakti terus dipersembahkan dengan tulus kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, setiap langkah menuju kebajikan akan selalu memiliki jalan. Karena sesungguhnya, yang paling utama dalam persembahyangan bukan hanya tempatnya, melainkan ketulusan hati dalam mendekatkan diri kepada Tuhan.