Sorong (Bimas Hindu) – Saat langit memasuki fase tanpa cahaya bulan, umat Hindu justru diajak menyalakan cahaya dari dalam diri. Hari Suci Tilem menjadi momentum untuk membersihkan kegelapan batin melalui introspeksi dan pengendalian enam musuh dalam diri (Sad Ripu).
Semangat itulah yang terasa dalam persembahyangan bersama Hari Suci Tilem di Pura Jagad Sari Aimas, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, Selasa (14/7/2026). Puluhan umat mengikuti rangkaian persembahyangan dengan penuh khidmat sebagai bentuk penyucian diri dan upaya mendekatkan diri kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Rangkaian kegiatan diawali dengan matur piuning, dilanjutkan dharmawacana, kemudian ditutup dengan persembahyangan bersama yang dipimpin Pinandita Pande Putu Sedana.
Dalam dharmawacananya, Penyelenggara Hindu Kementerian Agama Kabupaten Sorong, Goto Wahyono, SH, mengingatkan bahwa Tilem bukan sekadar pergantian fase bulan, tetapi simbol bagi manusia untuk membersihkan sisi-sisi gelap dalam batin melalui mulat sarira atau introspeksi terhadap pikiran, perkataan, dan perbuatan yang telah dilakukan.
Menurutnya, kegelapan batin muncul ketika manusia dikuasai oleh Sad Ripu, yakni enam sifat negatif berupa kama (nafsu), lobha (keserakahan), krodha (kemarahan), moha (kebingungan atau keterikatan), mada (kesombongan), dan matsarya (iri hati).
"Tilem mengajarkan kepada kita bahwa sebagaimana bulan berada pada fase gelap, demikian pula manusia hendaknya memanfaatkan momen ini untuk membersihkan kegelapan batin. Dengan mengendalikan Sad Ripu, hati menjadi lebih tenang, pikiran lebih jernih, dan kehidupan menjadi lebih harmonis," ujar Goto Wahyono.
Goto menambahkan bahwa pengendalian diri merupakan fondasi penting dalam membangun kehidupan yang damai, baik di lingkungan keluarga, masyarakat, maupun dalam menjalankan tugas dan pengabdian kepada bangsa dan negara. Melalui disiplin spiritual, sembahyang, serta pengamalan nilai-nilai dharma, umat Hindu diharapkan mampu menjadi pribadi yang bijaksana dan penuh kasih.
Persembahyangan berlangsung dengan penuh kekhusyukan. Setiap doa yang dipanjatkan menjadi harapan agar umat senantiasa diberikan kekuatan untuk mengendalikan hawa nafsu, menjaga kejernihan pikiran, serta menapaki kehidupan sesuai ajaran dharma.
Melalui peringatan Hari Suci Tilem, umat Hindu diharapkan tidak hanya menjalankan ritual keagamaan, tetapi juga membawa semangat penyucian batin ke dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, ketika kegelapan batin berhasil dikalahkan, akan lahir pribadi-pribadi yang mampu menghadirkan kedamaian, toleransi, dan kebajikan bagi sesama.