Tulang Bawang Barat (Bimas Hindu) – Peringatan Hari Tilem Sasih Kasa dimanfaatkan sebagai momentum memperkuat kesadaran umat terhadap pentingnya menjaga kelestarian alam sebagai bagian dari pengamalan ajaran Hindu. Pesan tersebut mengemuka dalam pembinaan keagamaan yang disampaikan Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tulang Bawang Barat, Eko Sriwulan, di Pura Dharma Putra, Tiyuh Murnijaya, Senin (14/7/2026).
Kegiatan yang dirangkaikan dengan persembahyangan Tilem itu diikuti umat Hindu dari berbagai banjar di sekitar pura. Selain menjadi sarana meningkatkan sradha dan bhakti, pembinaan juga mengajak umat merefleksikan hubungan manusia dengan alam di tengah berbagai tantangan kerusakan lingkungan yang semakin nyata.
Mengangkat tema "Harmoni Manusia dan Semesta: Membaca Pesan Konservasi Alam dalam Ajaran Tri Hita Karana", Eko Sriwulan menjelaskan bahwa konsep Tri Hita Karana mengajarkan keseimbangan hubungan antara manusia dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Parhyangan), sesama manusia (Pawongan), dan lingkungan (Palemahan). Ketiga unsur tersebut, menurutnya, menjadi fondasi dalam mewujudkan kehidupan yang harmonis dan berkelanjutan.
"Tri Hita Karana bukan hanya ajaran yang dipahami secara filosofis, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan nyata. Menjaga kebersihan lingkungan, menanam pohon, menggunakan sumber daya alam secara bijaksana, hingga mengurangi perilaku yang merusak alam merupakan bagian dari pelaksanaan Dharma yang harus menjadi kebiasaan umat Hindu," ujar Eko Sriwulan.
Ia menambahkan, Hari Tilem tidak hanya dimaknai sebagai waktu untuk meningkatkan kualitas persembahyangan, tetapi juga menjadi kesempatan melakukan introspeksi terhadap tanggung jawab manusia dalam merawat alam sebagai ciptaan Tuhan.
Menurutnya, berbagai persoalan lingkungan yang terjadi saat ini menuntut keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Oleh sebab itu, nilai-nilai Tri Hita Karana perlu terus dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari agar kepedulian terhadap lingkungan tumbuh menjadi budaya, bukan sekadar slogan.
"Melestarikan alam berarti menjaga keseimbangan kehidupan. Ketika manusia mampu hidup selaras dengan Tuhan, sesama, dan lingkungan, maka keharmonisan yang diajarkan dalam Hindu akan benar-benar terwujud. Itulah esensi Tri Hita Karana yang tetap relevan menjawab tantangan zaman," katanya.
Pembinaan berlangsung dalam suasana khidmat dan dialogis. Umat mengikuti penyampaian materi dengan antusias serta berdiskusi mengenai berbagai langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk menjaga kelestarian lingkungan di lingkungan keluarga maupun masyarakat.
Melalui penguatan pemahaman tersebut, umat Hindu didorong untuk menjadikan kepedulian terhadap lingkungan sebagai budaya hidup yang dimulai dari lingkungan keluarga dan masyarakat. Langkah-langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten diyakini mampu menjaga kelestarian alam sekaligus memperkuat harmoni kehidupan sebagaimana diajarkan dalam Hindu.