Tahukah Anda?

Purwaning Tilem, Tradisi Malam Suci Dewa Siwa di Candi Ijo

Umat Hindu melaksanakan Persembahyangan Purwaning Tilem atau Siwalatri bulanan di Candi Ijo, Sleman, DIY, sebagai upaya memperkuat sradha dan bhakti serta menghidupkan fungsi spiritual candi.

Sleman (Bimas Hindu) — Banyak umat Hindu mengenal Siwaratri sebagai hari suci yang diperingati setahun sekali. Namun, di Candi Ijo, Siwalatri dihayati setiap bulan melalui Persembahyangan Purwaning Tilem. Tradisi yang dilaksanakan secara rutin ini semakin mengukuhkan Candi Ijo sebagai salah satu destinasi tirta yatra umat Hindu di Daerah Istimewa Yogyakarta, sekaligus menghidupkan kembali fungsi spiritual candi yang memiliki Mahalingga (Lingga-Yoni).

Dalam tradisi spiritual Hindu, Purwaning Tilem dimaknai sebagai Siwalatri atau malam suci Dewa Siwa. Momentum ini menjadi waktu yang baik bagi umat untuk meningkatkan sradha dan bhakti melalui doa, yoga, meditasi, serta introspeksi diri. Di Candi Ijo, keberadaan Mahalingga (Lingga-Yoni) memberikan makna spiritual yang mendalam, sehingga persembahyangan Purwaning Tilem menjadi sarana memohon anugerah, penyucian batin, dan energi positif agar kehidupan senantiasa berada dalam keseimbangan serta berjalan sesuai dharma.

Tradisi tersebut kembali dilaksanakan pada Senin (13/7/2026), saat Bimas Hindu Daerah Istimewa Yogyakarta bersama Kelompok Kerja Penyuluh (Pokjaluh) Agama Hindu DIY menggelar Persembahyangan Purwaning Tilem yang dipuput oleh Jro Mangku Widiantoro. Kegiatan ini merupakan persembahyangan rutin setiap bulan yang bertujuan memperkuat kehidupan spiritual umat sekaligus menghidupkan fungsi Candi Ijo sebagai ruang ibadah bagi umat Hindu.

Terletak di Kalurahan Sambirejo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, pada ketinggian sekitar 400 meter di atas permukaan laut, Candi Ijo merupakan salah satu candi Hindu tertinggi di Daerah Istimewa Yogyakarta. Dibangun pada masa Kerajaan Mataram Kuno sekitar abad ke-9 hingga ke-10 Masehi, candi ini tidak hanya menyuguhkan panorama alam dari kawasan perbukitan, tetapi juga memiliki Mahalingga (Lingga-Yoni) di candi utamanya sebagai simbol pemujaan Dewa Siwa. Keberadaan Mahalingga inilah yang menjadikan Candi Ijo memiliki makna spiritual yang khas dan semakin dikenal sebagai salah satu tujuan tirta yatra umat Hindu di Yogyakarta.

Pembimbing Masyarakat Hindu Kanwil Kementerian Agama Daerah Istimewa Yogyakarta, Didik Widya Putra, mengajak umat memanfaatkan kesempatan beribadah di Candi Ijo dengan tetap menjaga kesucian dan kelestarian situs cagar budaya tersebut.

"Kita telah diberikan kemudahan untuk memanfaatkan Candi Ijo sebagai tempat persembahyangan. Gunakanlah kesempatan ini dengan sebaik-baiknya untuk memperkuat nilai-nilai spiritual, sekaligus menjaga kebersihan, kesucian, dan kelestarian candi sebagai warisan budaya bangsa," ujarnya.

Menurut Didik, pemanfaatan Candi Ijo sebagai tempat persembahyangan merupakan bentuk sinergi antara pelestarian cagar budaya dan penguatan kehidupan beragama. Melalui Persembahyangan Purwaning Tilem yang dilaksanakan secara rutin, umat tidak hanya menjaga tradisi spiritual, tetapi juga menghidupkan kembali fungsi asli candi sebagai ruang pemujaan.

Melalui tradisi ini, masyarakat juga diajak memahami bahwa Siwalatri bukan hanya diperingati sebagai hari raya tahunan, melainkan juga dihayati setiap Purwaning Tilem sebagai momentum bulanan untuk memperdalam bhakti kepada Dewa Siwa. Dengan demikian, Candi Ijo tidak hanya menjadi saksi sejarah peradaban Hindu di Nusantara, tetapi terus hidup sebagai pusat spiritual, pelestarian budaya, sekaligus destinasi tirta yatra bagi umat Hindu yang ingin mendekatkan diri kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi-Nya sebagai Dewa Siwa.


Berita Daerah LAINNYA