Klungkung (Bimas Hindu) – Banyak persoalan hidup, bahkan tindak pidana yang berujung pada hukuman penjara, sering kali berawal dari ketidakmampuan seseorang mengendalikan dirinya. Dalam ajaran Hindu, kondisi tersebut dikenal sebagai pengaruh Sad Ripu, enam musuh dalam diri manusia yang apabila dibiarkan dapat menguasai pikiran, perkataan, dan perbuatan.
Pesan tersebut disampaikan Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Klungkung saat memberikan penyuluhan keagamaan kepada warga binaan di Rutan Kelas IIB Klungkung, Selasa (14/7/2026), bertepatan dengan momentum Rahina Tilem yang dimaknai sebagai waktu terbaik untuk melakukan introspeksi diri.
Penyuluh Agama Hindu Kemenag Klungkung, Kompyang Purnamaningsih, menjelaskan bahwa setiap manusia memiliki enam musuh dalam dirinya. Tantangannya bukan menghilangkan sifat-sifat tersebut, melainkan mengendalikannya agar tidak membawa seseorang pada keputusan yang keliru.
"Sad Ripu adalah enam musuh dalam diri manusia yang bersumber dari pikiran dan hawa nafsu. Terdiri dari Kama (nafsu), Lobha (serakah), Krodha (marah), Mada (mabuk), Matsarya (iri), dan Moha (bingung). Mengendalikannya bukan berarti memusnahkan emosi, melainkan melatih kesadaran diri dan pikiran (manah) agar tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain," ujarnya.
Dalam penyuluhan tersebut dijelaskan bahwa setiap unsur Sad Ripu memiliki cara pengendalian yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kama dikendalikan dengan rasa syukur dan menyalurkan energi pada aktivitas positif. Lobha dilawan dengan sikap dermawan dan menerima apa yang dimiliki. Krodha diredam melalui pengendalian emosi dan memaafkan. Sementara Mada diimbangi dengan kerendahan hati, Matsarya diatasi dengan mengembangkan empati dan fokus pada potensi diri, sedangkan Moha dapat dikendalikan melalui meditasi, pendalaman ajaran suci, serta menjalankan hidup sesuai nilai-nilai Dharma.
Selain membahas Sad Ripu, Penyuluh Agama Hindu Ayu Putri Suryaningrat mengajak peserta memahami makna Rahina Purnama dan Tilem melalui kisah Chandradeva.
"Dalam mitologi Hindu, Dewa Bulan (Chandradeva) menikahi 27 putri Dewa Daksha yang melambangkan 27 rasi bintang (Nakshatra). Karena lebih menyayangi Rohini, Chandradeva menerima kutukan hingga kehilangan cahayanya. Setelah bertobat, kutukan tersebut diubah menjadi siklus bulan yang memudar dan kembali bersinar. Kisah ini mengajarkan pentingnya keadilan, introspeksi, dan kesempatan untuk memperbaiki diri," paparnya.
Sementara itu, Penyuluh Agama Hindu Dewa Hardiputra menegaskan bahwa penyuluhan keagamaan bukan sekadar menambah wawasan, tetapi menjadi bekal bagi warga binaan untuk membangun karakter yang lebih baik ketika kembali ke masyarakat.
"Melalui penyuluhan ini, kami berharap warga binaan mampu memahami bahwa Sad Ripu bukanlah sesuatu yang harus dimusuhi, melainkan dikendalikan. Begitu pula makna Hari Tilem yang mengajarkan introspeksi diri, hukum Karma Phala, serta pentingnya menjaga keseimbangan antara dharma dan adharma dalam kehidupan," jelasnya.
Kegiatan berlangsung hangat dan interaktif. Warga binaan aktif mengajukan pertanyaan mengenai makna Hari Tilem, konsep Sad Ripu, hingga penerapan nilai-nilai ajaran Hindu dalam kehidupan masyarakat Bali saat ini. Antusiasme peserta menunjukkan besarnya keinginan untuk memperdalam pengetahuan keagamaan sebagai bekal memperbaiki diri.
Melalui pembinaan tersebut, Kementerian Agama berharap warga binaan tidak hanya memperoleh pemahaman keagamaan, tetapi juga mampu membangun pola pikir yang positif, memperkuat sraddha dan bhakti, serta mempersiapkan diri menjadi pribadi yang lebih baik setelah kembali ke tengah masyarakat. Upaya ini sekaligus menjadi wujud implementasi Asta Protas Kementerian Agama, khususnya pada program Layanan Keagamaan Berdampak, yang menjangkau seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.