Dharma Wacana

Harmoni Berawal dari Setiap Kata: Pesan Rahina Tilem bagi Umat Hindu

Umat Hindu mengikuti Persembahyangan Bersama Rahina Tilem di Pura Mandara Giri Kantor Kementerian Agama Kabupaten Klungkung yang diisi Dharma Wacana tentang etika komunikasi berdasarkan Kekawin Nitisastra.

Klungkung (Bimas Hindu) — Dalam ajaran Hindu, sebuah kata diyakini mampu menghadirkan kebahagiaan, membangun persahabatan, bahkan sebaliknya memicu penderitaan. Nilai luhur yang tertuang dalam Kekawin Nitisastra itu kembali diingatkan pada momentum Rahina Tilem sebagai pedoman menjaga etika komunikasi di tengah kehidupan masyarakat yang majemuk dan era digital. Pesan tersebut mengemuka dalam Dharma Wacana bertajuk "Kekuatan Kata-Kata dalam Membangun Kehidupan di Era Modern" pada rangkaian Persembahyangan Bersama Rahina Tilem di Pura Mandara Giri, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Klungkung, Selasa (14/7/2026).

Persembahyangan Bersama Rahina Tilem tidak hanya menjadi momentum memperkuat sraddha dan bhakti, tetapi juga menjadi ruang refleksi bagi umat Hindu untuk menghayati kembali ajaran tentang pentingnya menjaga tutur kata. Di tengah masyarakat yang semakin beragam serta berkembangnya ruang komunikasi digital, etika dalam berbicara maupun menulis menjadi salah satu kunci dalam merawat kerukunan dan memperkokoh persaudaraan.

Dalam Dharma Wacana tersebut, Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Klungkung, Ni Wayan Novitasari, mengangkat Kekawin Nitisastra Sarga V.3 sebagai pedoman dalam membangun budaya komunikasi yang santun.

Wasita nimittanta manemu laksmi,
Wasita nimittanta pati kapangguh,
Wasita nimittanta manemu dukha,
Wasita nimittanta manemu mitra.

Sloka tersebut mengajarkan bahwa perkataan memiliki kekuatan yang luar biasa. Melalui ucapan, seseorang dapat memperoleh kebahagiaan dan kemakmuran, tetapi perkataan yang tidak terkendali juga dapat mendatangkan penderitaan bahkan kehancuran. Sebaliknya, kata-kata yang baik akan melahirkan persahabatan, mempererat hubungan antarsesama, serta menjadi fondasi terciptanya kehidupan yang harmonis.

"Sloka ini mengajarkan bahwa ucapan memiliki kekuatan yang sangat besar. Kata-kata bukan sekadar bunyi, tetapi memiliki dampak terhadap diri sendiri maupun orang lain. Ajaran ini tetap relevan sepanjang zaman, bahkan semakin penting di era digital. Saat ini, setiap orang dapat berbicara kepada ribuan bahkan jutaan orang melalui media sosial," ujar Ni Wayan Novitasari.

Novitasari menjelaskan bahwa perkembangan teknologi telah memperluas ruang komunikasi manusia. Komunikasi kini tidak hanya berlangsung melalui percakapan langsung, tetapi juga melalui tulisan, komentar, unggahan, maupun pesan di media sosial. Karena itu, setiap orang dituntut semakin bijak dalam menggunakan kata-kata. Komunikasi yang santun akan membangun kepercayaan dan mempererat hubungan antarsesama, sedangkan ujaran kebencian, hoaks, maupun perundungan digital berpotensi memicu konflik dan meninggalkan dampak yang panjang bagi kehidupan masyarakat.

Pesan yang terkandung dalam Kekawin Nitisastra menunjukkan bahwa ajaran Hindu telah lama menempatkan etika komunikasi sebagai bagian dari pengamalan dharma. Menjaga ucapan bukan sekadar sopan santun, melainkan bentuk pengendalian diri yang mencerminkan kualitas karakter seseorang. Dalam kehidupan yang majemuk, kemampuan menghargai perbedaan, menyampaikan pendapat dengan santun, dan menghindari perkataan yang melukai menjadi kontribusi nyata umat Hindu dalam merawat harmoni sosial.

Nilai-nilai tersebut selaras dengan semangat Asta Protas Kementerian Agama, khususnya penguatan kerukunan dan cinta kemanusiaan. Melalui budaya komunikasi yang berlandaskan kasih sayang, penghormatan, dan tanggung jawab, umat Hindu diharapkan terus menjadi bagian dari upaya memperkuat persaudaraan serta menghadirkan kedamaian di tengah keberagaman bangsa.

Rahina Tilem pun menjadi pengingat bahwa harmoni tidak selalu dibangun melalui tindakan yang besar. Ia justru berawal dari hal-hal sederhana yang dilakukan setiap hari, termasuk memilih kata-kata yang membawa kesejukan, menumbuhkan saling pengertian, dan mempererat persaudaraan di tengah kehidupan bermasyarakat.


Berita Daerah LAINNYA