Malang (BIMAS HINDU) – Suasana hangat dan penuh keceriaan menyelimuti Panti Disabilitas Mental Karya Asih, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, Kamis (9/7). Sejumlah warga binaan dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang beragama Hindu mengikuti kegiatan pembinaan keagamaan yang dikemas melalui pendekatan humanis dan interaktif. Langkah ini dilakukan sebagai upaya memberikan ruang inklusif serta penguatan mental-spiritual bagi kelompok rentan.
Kegiatan diawali dengan lantunan doa pembuka dan pelafalan Mantram Tri Sandhya bersama untuk mengondisikan pikiran agar lebih tenang. Berbeda dengan pembinaan keagamaan pada umumnya, metode yang digunakan kali ini berbasis pada permainan edukatif (play-and-learn). Para warga binaan diajak aktif mengelompokkan atribut visual dari para Dewa dan Dewi dalam ajaran Hindu. Melalui metode yang menyenangkan ini, mereka dapat mengenal makna simbol suci keagamaan secara sederhana tanpa merasa terbebani.
Yeni Susanti, Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Malang yang memandu langsung jalannya kegiatan, mengungkapkan bahwa memberikan pelayanan di tempat seperti ini menuntut kita untuk mengamalkan ajaran Catur Paramita, khususnya Karuna, yaitu sikap welas asih dan kasih sayang kepada sesama tanpa membeda-bedakan kondisi fisik maupun mental. Ajaran Hindu berbasis kasih sayang (Karuna) sangat efektif dalam membangun komunikasi dengan warga disabilitas mental. Pembinaan ini dirancang untuk menyentuh sisi psikologis terdalam mereka melalui interaksi yang setara.
"Pendekatan di tempat seperti ini membutuhkan kesabaran ekstra dan ketulusan. Ini adalah bentuk implementasi nyata dari ajaran kasih sayang kepada sesama tanpa membeda-bedakan kondisi fisik maupun mental mereka," ungkap Yeni di sela-sela kegiatan.
Dalam proses interaksi, disisipkan pula pesan-pesan moral untuk memotivasi para warga binaan agar senantiasa menjaga kedamaian pikiran dan menumbuhkan rasa ikhlas dalam menjalani dinamika kehidupan.
"Mari kita damaikan pikiran dan senantiasa bersyukur atas waranugraha kesehatan yang diberikan oleh Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Apa pun keadaan yang kita jalani saat ini adalah bagian dari perjalanan hidup (karma wasana). Oleh karena itu, mari kita hadapi dengan rendah hati, ikhlas, dan tetap berpikir positif," tuturnya menyemangati para peserta.
Melalui kegiatan ini, pemenuhan hak spiritual bagi seluruh lapisan masyarakat termasuk kelompok disabilitas dapat berjalan secara berkesinambungan. Pendekatan yang merangkul dan penuh empati terbukti mampu menciptakan suasana belajar yang nyaman, sekaligus menjadi terapi psikologis yang menumbuhkan semangat hidup bagi para penghuni panti.
Rangkaian kegiatan pembinaan ditutup dengan doa bersama untuk keselamatan dan keharmonisan, dilanjutkan dengan sesi ramah tamah serta menikmati hidangan ringan bersama seluruh warga binaan panti.