Dari Sudut Pura, Umat Hindu Tiyuh Murni Jaya Rawat Toleransi dan Harmoni Sosial Berlandaskan Tri Hita Karana

kegiatan Pembinaan Umat Hindu bertajuk "Merawat Toleransi Tanpa Batas dari Sudut Pura: Menghidupkan Jiwa Pawongan di Tengah Perbedaan" yang diselenggarakan di Pura Dharma Putra, Tiyuh Murni Jaya, Kecamatan Tumijajar, Kabupaten Tulang Bawang Barat

Tulang Bawang Barat (Bimas Hindu) — Penguatan moderasi beragama tidak hanya diwujudkan melalui kebijakan, tetapi juga melalui pembinaan yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat. Semangat tersebut tercermin dalam kegiatan Pembinaan Umat Hindu bertajuk "Merawat Toleransi Tanpa Batas dari Sudut Pura: Menghidupkan Jiwa Pawongan di Tengah Perbedaan" yang diselenggarakan di Pura Dharma Putra, Tiyuh Murni Jaya, Kecamatan Tumijajar, Kabupaten Tulang Bawang Barat, Sabtu (11/7/2026).

Kegiatan yang diprakarsai oleh Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Tulang Bawang Barat ini menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan nilai-nilai kemanusiaan bagi umat Hindu agar mampu membangun kehidupan yang harmonis di tengah keberagaman masyarakat.

Penyuluh Agama Hindu Fungsional Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tulang Bawang Barat, Eko Sriwulan, S.Ag., menegaskan bahwa ajaran Tri Hita Karana, khususnya aspek Pawongan, memiliki peran strategis dalam membangun hubungan antarmanusia yang penuh empati, saling menghargai, dan menjunjung tinggi nilai toleransi.

Menurutnya, konsep Tat Twam Asi bukan sekadar ajaran filosofis, tetapi merupakan pedoman hidup yang relevan dalam menghadapi berbagai tantangan sosial di era modern.

"Pura bukan hanya tempat untuk mendekatkan diri kepada Sang Hyang Widhi Wasa melalui Parahyangan, tetapi juga menjadi ruang untuk belajar memanusiakan sesama. Jiwa Pawongan harus terus dihidupkan sebagai fondasi toleransi. Ketika kita memahami Tat Twam Asi, kita menyadari bahwa menyakiti orang lain sama dengan menyakiti diri sendiri, sedangkan membahagiakan sesama merupakan jalan menuju kedekatan dengan Tuhan," ujar Eko Sriwulan.

Ia juga mengingatkan bahwa perkembangan teknologi informasi menghadirkan tantangan baru dalam kehidupan bermasyarakat. Oleh karena itu, umat Hindu perlu mengendalikan diri melalui pemahaman Sad Ripu, terutama terhadap sifat Kroda (amarah) dan Matsarya (iri hati), yang kerap menjadi pemicu konflik, termasuk di ruang digital.

Pengamalan nilai-nilai Tri Kaya Parisudha juga menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari. Umat diajak untuk berpikir positif, bertutur kata santun, bijak dalam menyaring informasi, menghindari ujaran kebencian, serta memperkuat budaya gotong royong tanpa membedakan latar belakang agama maupun keyakinan.

Kegiatan pembinaan berlangsung secara interaktif dan mendapat antusiasme tinggi dari masyarakat Hindu Tiyuh Murni Jaya. Selain memperdalam pemahaman ajaran Hindu, peserta diajak mendiskusikan berbagai persoalan sosial yang dihadapi masyarakat serta mencari solusi berdasarkan nilai-nilai Dharma.

Melalui pembinaan ini, umat diharapkan mampu mengimplementasikan Dharma Agama sebagai kewajiban spiritual dan Dharma Negara sebagai tanggung jawab sebagai warga negara secara seimbang. Sinergi keduanya menjadi fondasi penting dalam memperkuat kerukunan, menjaga persatuan, serta membangun masyarakat yang damai dan inklusif.

Ke depan, Pura Dharma Putra diharapkan tidak hanya menjadi pusat pelaksanaan ibadah, tetapi juga berkembang sebagai pusat pembinaan karakter, penguatan nilai-nilai moderasi beragama, serta lahirnya umat Hindu yang cerdas secara spiritual, adaptif terhadap perkembangan zaman, dan mampu menjadi teladan dalam membangun toleransi di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk.


Berita Daerah LAINNYA