Jakarta (Bimas Hindu) – Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Kementerian Agama, Prof. I Nengah Duija, mendorong Sekolah Tinggi Agama Hindu Dharma Nusantara (STAH-DN) Jakarta memperkuat peran sebagai pusat pengembangan sumber daya manusia Hindu yang berkarakter, adaptif, dan mampu menjawab tantangan global. Pesan itu disampaikan saat menghadiri Dies Natalis XXXII sekaligus Wisuda XXIV Program Studi Pendidikan Agama Hindu dan Wisuda XI Program Studi Ilmu Komunikasi Hindu di Gedung Wanita BKOW DKI Jakarta, Minggu (4/10/2026).
Sebanyak 38 mahasiswa STAH-DN Jakarta diwisuda pada momentum tersebut. Mereka terdiri atas 21 lulusan Program Studi Pendidikan Agama Hindu dan 17 lulusan Program Studi Ilmu Komunikasi Hindu.
Dalam sambutannya, Dirjen Bimas Hindu menyampaikan rasa angayubagia dan selamat kepada para wisudawan, keluarga, serta seluruh sivitas akademika STAH-DN Jakarta. Menurutnya, tema Dies Natalis dan wisuda, “Sarva Jnana Tattva dalam Kearifan Lokal Nusantara Berwawasan Global”, menegaskan pentingnya membangun pengetahuan yang berakar pada nilai dan kearifan Nusantara, sekaligus memiliki kemampuan merespons dinamika masyarakat dan perkembangan dunia.
“Jadikan Sarva Jnana Tattva sebagai akar kearifan Nusantara dan wawasan global sebagai orientasi. Pengetahuan tidak cukup berhenti pada penguasaan teori, tetapi harus mampu melahirkan karya, pelayanan, inovasi, dan keteladanan yang memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar I Nengah Duija.
Dirjen menyampaikan lima pesan strategis bagi penguatan STAH-DN Jakarta. Pertama, kampus perlu terus dikembangkan sebagai pusat pengembangan SDM Hindu yang berkualitas dan berkarakter. Penguatan kualitas dosen, kurikulum, budaya akademik, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat menjadi bagian penting dalam membangun perguruan tinggi yang mampu melahirkan lulusan unggul.
Kedua, posisi STAH-DN Jakarta di Ibu Kota perlu dimanfaatkan untuk memperluas jejaring dan kolaborasi. Perguruan tinggi dapat membangun kerja sama dengan pemerintah, perguruan tinggi lain, lembaga keagamaan, organisasi masyarakat, dunia usaha, media, serta komunitas sehingga kontribusi kampus semakin luas dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Ketiga, pendidikan harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan substansi Dharma. Pemanfaatan teknologi, menurut Dirjen, perlu diarahkan untuk memperluas akses pendidikan dan meningkatkan kualitas pelayanan, namun tetap berpijak pada nilai-nilai ajaran Hindu.
Keempat, pendidikan tinggi harus mampu mengubah pengetahuan menjadi karya dan dampak. Lulusan tidak hanya dituntut memiliki ijazah dan gelar akademik, tetapi juga mampu menerjemahkan ilmu menjadi tindakan nyata, pelayanan, inovasi, serta keteladanan di tengah masyarakat.
Kelima, kearifan Nusantara harus menjadi akar pengembangan keilmuan, sementara wawasan global menjadi orientasinya. Nilai-nilai Hindu yang tumbuh dan berkembang di Nusantara perlu terus dikaji secara kontekstual agar dapat memberikan jawaban terhadap perubahan sosial dan tantangan kehidupan masyarakat modern.
Arah tersebut, kata Dirjen, sejalan dengan Renstra Ditjen Bimas Hindu 2025–2029 dan Asta Protas Kementerian Agama yang menempatkan penguatan kualitas sumber daya manusia, pendidikan, serta pelayanan keagamaan sebagai bagian penting dalam pembangunan umat.
Kepada 38 wisudawan, Prof. I Nengah Duija berpesan agar capaian akademik yang diperoleh tidak berhenti sebagai pencapaian pribadi, tetapi menjadi bekal untuk menjalankan tanggung jawab sosial dan moral.
“Jadilah lulusan yang mampu menghadirkan nilai-nilai Hindu secara santun, komunikatif, kontekstual, dan bermanfaat di tengah masyarakat yang majemuk. Jangan hanya membawa gelar akademik, tetapi bawalah pula tanggung jawab moral untuk umat, bangsa, dan negara,” pesannya.
Orasi ilmiah pada Dies Natalis XXXII dan wisuda tersebut disampaikan Staf Khusus Menteri Agama H. Gugun Gumilar Ia mengangkat pentingnya menjadikan kekayaan budaya dan kearifan lokal Indonesia sebagai modal dalam membangun sumber daya manusia yang mampu berkiprah di tingkat global.
Gugun menjelaskan, Pancasila merupakan fondasi kehidupan berbangsa yang inklusif sekaligus menjadi social covenant. Nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat Indonesia, seperti gotong royong dan musyawarah, menurutnya dapat menjadi kekuatan dalam membangun hubungan dan kerja sama di tingkat internasional.
Kearifan budaya tersebut dapat dikembangkan melalui jalur diplomasi yang bertumpu pada budaya, dialog, saling memahami, kepercayaan, hingga kerja sama. Dengan pendekatan itu, kekayaan budaya Indonesia tidak hanya dipertahankan sebagai identitas, tetapi juga dapat menjadi kekuatan dalam membangun hubungan dengan masyarakat global.
“Kearifan lokal tidak cukup hanya dijaga sebagai warisan, tetapi harus diolah menjadi kekuatan sumber daya manusia yang mampu berkompetisi dan berkontribusi di tingkat dunia,” kata Gugun.
Ia juga menyoroti tantangan pengembangan sumber daya manusia Indonesia di tengah persaingan global. Dengan merujuk data OECD yang dipaparkannya, proporsi lulusan perguruan tinggi Indonesia disebut masih sekitar 13,1 persen sehingga peningkatan kualitas pendidikan tinggi menjadi kebutuhan strategis.
Menurut Gugun, tantangan tersebut semakin kompleks dengan munculnya human capital and talent war, dinamika geopolitik, serta percepatan transformasi kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI). Kondisi itu menuntut perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan lulusan yang menguasai pengetahuan, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, inovatif, kolaboratif, berintegritas, dan mampu menciptakan dampak berkelanjutan.
Kepada para wisudawan, Gugun berpesan agar capaian akademik menjadi titik awal untuk terus belajar dan berkontribusi. Ia menekankan tiga Asikap penting yang perlu dibawa lulusan dalam perjalanan profesionalnya, yakni berpikir kritis dan inovatif, membangun kolaborasi yang menghasilkan dampak, serta menjaga integritas dan keberlanjutan.
Momentum wisuda ke-38 lulusan STAH-DN Jakarta itu menjadi bagian dari perjalanan perguruan tinggi dalam menyiapkan sumber daya manusia Hindu yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga mampu membawa nilai Dharma ke ruang kehidupan yang lebih luas. Dengan akar kearifan Nusantara dan orientasi wawasan global, lulusan diharapkan mampu mengambil peran dalam pendidikan, komunikasi, pelayanan keagamaan, maupun bidang profesional lainnya.