Karya Agung Madewasraya Pura Tuluk Biyu Batur Dilaksanakan 20 Tahun Sekali, Rawat Sejarah dan Alam

Karya Agung Madewasraya setiap 20 tahun sekali menjadi momentum memperkuat bhakti, menjaga keseimbangan alam, dan merawat warisan sejarah untuk generasi mendatang.

Bangli (Bimas Hindu) - Karya Agung Madewasraya yang dilaksanakan setiap 20 tahun sekali menjadi momentum penting bagi umat Hindu untuk memperkuat bhakti, menjaga keseimbangan alam, sekaligus merawat warisan sejarah agar tetap dipahami generasi mendatang. Tradisi keagamaan yang memiliki nilai spiritual dan historis tersebut berlangsung di Pura Tuluk Biyu Batur, Kintamani, Bangli, dalam rangkaian Karya Agung Madewasraya dan Pujawali Ngusaba Purnamaning Sasih Kapat Tahun Saka 1948, sejak 28 Agustus hingga 11 Oktober 2026.

Dirjen Bimas Hindu, Prof. I Nengah Duija, hadir dalam Muspayang Bhakti Pepranian di Pura Tuluk Biyu Batur, Selasa (6/10/2026). Kehadirannya menjadi bagian dari dukungan terhadap pelaksanaan tradisi keagamaan yang tidak hanya memiliki dimensi ritual, tetapi juga memuat pesan tentang hubungan manusia dengan alam serta pentingnya pelestarian sejarah.

Dalam kesempatan tersebut, Dirjen Bimas Hindu Prof. I Nengah Duija menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Karya Agung Madewasraya yang dilaksanakan secara berkala setiap 20 tahun. Menurutnya, pelaksanaan karya tersebut merupakan bentuk bhakti kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa sekaligus momentum untuk membangun kesadaran manusia dalam menjaga keberlangsungan alam semesta.

“Apa pun rezeki yang diberikan Tuhan, itulah yang kita kelola dan persembahkan dengan sebaik-baiknya. Ketika kita telah mendapatkan rezeki, jangan lagi meragukan keberadaan Beliau. Karya ini menjadi salah satu bentuk rasa syukur sekaligus upaya memohon perlindungan Tuhan dalam menjaga keberlangsungan alam semesta dari berbagai ancaman akibat kecerobohan manusia dalam menyeimbangkan alam,” ujar I Nengah Duija.

Ia menilai pelaksanaan Madewasraya yang berlangsung setiap dua dekade memiliki nilai sejarah yang perlu diwariskan secara utuh kepada generasi berikutnya. Karena itu, sejarah dan perjalanan karya tersebut perlu didokumentasikan secara sistematis, termasuk dituangkan dalam aksara Bali agar dapat dibaca, dipelajari, dan dipahami ketika pelaksanaan upacara kembali digelar.

“Lelintihan atau sejarah Karya Agung Madewasraya ini perlu disurat dalam aksara Bali. Ketika karya kembali dilaksanakan, sejarahnya dapat dibacakan sehingga generasi muda memahami perjalanan tradisi dan nilai yang diwariskan oleh para leluhur,” katanya.

Menurutnya, Pura Tuluk Biyu Batur memiliki kedudukan penting dalam khazanah keagamaan Hindu di Bali. Pura yang memiliki keterkaitan dengan sejarah kerajaan pada masa lampau tersebut merupakan salah satu Pura Kahyangan Jagat. Jejak sejarah yang tercatat dalam sejumlah prasasti menjadi sumber penting untuk memahami perjalanan tradisi dan keberadaan pura.

Dirjen menekankan, pelestarian warisan keagamaan tidak cukup dilakukan dengan menjaga bangunan fisik pura. Pengetahuan, sejarah, tradisi, serta nilai yang terkandung di dalamnya juga perlu dirawat dan diwariskan. Dokumentasi sejarah menjadi penting agar generasi muda tidak hanya memahami prosesi ritual, tetapi juga mengetahui latar belakang, makna, dan perjalanan tradisi yang diwariskan leluhur.

Rangkaian Karya Agung Madewasraya dan Pujawali Ngusaba Purnamaning Sasih Kapat Tahun Saka 1948 berlangsung sejak Jumat (28/8/2026) dan dijadwalkan berakhir pada Minggu (11/10/2026). Berbagai rangkaian bhakti dan ritual keagamaan dilaksanakan sesuai dengan tata upacara yang telah ditetapkan.

Muspayang Bhakti Pepranian pada Selasa (6/10/2026) menjadi salah satu bagian dari rangkaian karya yang mempertemukan pengempon, prajuru adat, tokoh agama, pemerintah, dan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan tradisi keagamaan.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Ketua PHDI Provinsi Bali yang diwakili Prof. I Made Pageh, Pamucuk Pura Tuluk Biyu, Penglingsir Desa Adat Batur/Kintamani, perwakilan Kementerian Agama Kabupaten Bangli, serta unsur Forkopimda Provinsi Bali dan Kabupaten Bangli.

Karya Agung Madewasraya menunjukkan bahwa tradisi keagamaan yang diwariskan lintas generasi tidak hanya menjadi bagian dari kehidupan spiritual umat, tetapi juga menyimpan pengetahuan tentang sejarah, kebudayaan, dan hubungan manusia dengan alam. Merawat seluruh nilai tersebut menjadi bagian penting dari upaya memastikan warisan leluhur tetap hidup dan relevan bagi generasi berikutnya.


Berita Pusat LAINNYA