Palu (Bimas Hindu) – Dirjen Bimas Hindu Kemenag, Prof. I Nengah Duija mendorong pengembangan keilmuan dan ekonomi Hindu yang mampu menjawab dinamika global tanpa kehilangan karakter nilai-nilai Hindu. Hal tersebut disampaikan saat menjadi pembicara utama dalam International Seminar 2026: Building the International Network for Collaboration in Education, Research, Culture, and Entrepreneurship di Sekolah Tinggi Agama Hindu Dharma Sentana Sulawesi Tengah, Sabtu (10/10/2026).
Seminar yang dilaksanakan secara hibrida tersebut membahas pentingnya jejaring internasional dalam pendidikan, penelitian, kebudayaan, dan kewirausahaan. Kegiatan ini menghadirkan akademisi dan praktisi dari Indonesia serta India untuk berbagi perspektif mengenai kolaborasi dan pengembangan keilmuan di tengah perubahan dunia yang berlangsung cepat.
Prof. I Nengah Duija menilai perkembangan teknologi informasi telah mengubah cara masyarakat memahami dan merespons berbagai peristiwa global. Perubahan tersebut menuntut perguruan tinggi untuk mengembangkan pendekatan pembelajaran dan penelitian yang relevan dengan kebutuhan zaman.
“Kita tidak lagi memahami kondisi sebuah negara dalam hitungan minggu atau hari, melainkan dalam hitungan menit bahkan detik,” ujar Prof. I Nengah Duija.
Menurut Dirjen Bimas Hindu perguruan tinggi keagamaan Hindu perlu memanfaatkan perkembangan teknologi untuk membuka akses terhadap pengetahuan dan dinamika internasional. Melalui kegiatan akademik yang melibatkan peserta dari berbagai negara, sivitas akademika dapat memperluas wawasan sekaligus memahami persoalan global dari perspektif lokal.
“Seminar ini memberikan pengetahuan terkait tema hari ini yang sangat relevan. Kita memerlukan strategi baru tentang pengembangan keilmuan,” katanya.
Selain memperluas jejaring akademik, Prof. I Nengah Duija menyoroti pentingnya membangun bidang keilmuan yang memiliki identitas dan keunggulan tersendiri. Salah satunya melalui pengembangan ekonomi Hindu, dengan mengintegrasikan kajian ekonomi dan nilai-nilai Hindu dalam pengelolaan, manajemen, serta administrasi.
Prof. I Nengah Duija menilai pendekatan tersebut dapat menjadi karakter akademik yang membedakan perguruan tinggi Hindu sekaligus memberikan kontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Menurut dia, pengetahuan ekonomi yang berkembang secara luas perlu dikaji melalui perspektif keilmuan Hindu agar melahirkan pemikiran yang kontekstual dan memiliki relevansi bagi masyarakat.
“Kelebihan yang kita miliki, seperti ekonomi makro yang dipelajari oleh dunia, kita tarik ke dalam epistemologi ekonomi Hindu sehingga menjadi ciri khas dari sekolah tinggi yang kita kelola,” tutur Prof. Duija.
Seminar tersebut juga menghadirkan sejumlah narasumber, yakni Prof. Gyanendra Nath Tiwari dari Nagaland University, India; Dr. Ramnita Sharda dari Hans Raj Mahila Maha Vidyalaya, Jalandhar, India; Dr. Rahul Deshmukh, konsultan independen dan pelatih utama dari Bhopal, India; serta Anjasmara, aktor dan instruktur yoga dari Indonesia. Kegiatan ini turut melibatkan Ida Rsi Putra Manuaba, penerima Padma Shri Award 2020 sekaligus pegiat kebudayaan India-Indonesia.
Kehadiran para narasumber dengan latar belakang berbeda memberikan ruang pertukaran pandangan mengenai pendidikan, penelitian, budaya, dan kewirausahaan. Kolaborasi lintas negara tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas perspektif akademik dan membuka peluang pengembangan gagasan yang dapat diterapkan sesuai kebutuhan lokal.
Dirjen Bimas Hindu juga menyampaikan harapannya agar STAH Dharma Sentana Sulawesi Tengah terus berkembang dan menghasilkan lulusan yang mampu bersaing di tingkat global. Ia menekankan bahwa perguruan tinggi Hindu memiliki peran penting dalam menyiapkan sumber daya manusia yang berpengetahuan, memiliki identitas keagamaan, dan mampu berkontribusi bagi masyarakat.
Ia berharap kegiatan akademik semacam ini tidak berhenti sebagai Kegiatan pertukaran gagasan, tetapi menjadi ruang untuk mengembangkan pemikiran baru yang memperkaya keilmuan Hindu dan mendukung pembangunan peradaban Hindu di tingkat dunia.